BALAI PENYULUHAN PERTANIAN (BPP) KEC. PANAI HULU KAB. LABUHANBATU - SUMATERA UTARA
Balai Penyuluhan Pertanian (BPP)
Kec. Panai Hulu Kab. Labuhanbatu - Sumatera Utara
Senin, 11 Februari 2013
PERTANIAN DI INDONESIA
Pertanian
dalam pengertian yang luas mencakup semua kegiatan yang melibatkan pemanfaatan
makhluk hidup (termasuk tanaman, hewan, dan mikrobia) untuk kepentingan
manusia. Dalam arti sempit, pertanian juga diartikan sebagai kegiatan
pemanfaatan sebidang lahan untuk membudidayakan jenis tanaman tertentu,
terutama yang bersifat semusim.
Usaha
pertanian diberi nama khusus untuk subjek usaha tani tertentu. Kehutanan adalah
usaha tani dengan subjek tumbuhan (biasanya pohon) dan diusahakan pada lahan
yang setengah liar atau liar (hutan). Peternakan menggunakan subjek hewan darat
kering (khususnya semua vertebrata kecuali ikan dan amfibia) atau serangga
(misalnya lebah). Perikanan memiliki subjek hewan perairan (termasuk amfibia dan
semua non-vertebrata air). Suatu usaha pertanian dapat melibatkan berbagai
subjek ini bersama-sama dengan alasan efisiensi dan peningkatan keuntungan.
Pertimbangan akan kelestarian lingkungan mengakibatkan aspek-aspek konservasi
sumber daya alam juga menjadi bagian dalam usaha pertanian.
Semua usaha
pertanian pada dasarnya adalah kegiatan ekonomi sehingga memerlukan dasar-dasar
pengetahuan yang sama akan pengelolaan tempat usaha, pemilihan benih/bibit,
metode budidaya, pengumpulan hasil, distribusi produk, pengolahan dan
pengemasan produk, dan pemasaran. Apabila seorang petani memandang semua aspek
ini dengan pertimbangan efisiensi untuk mencapai keuntungan maksimal maka ia
melakukan pertanian intensif (intensive farming). Usaha pertanian yang dipandang
dengan cara ini dikenal sebagai agribisnis. Program dan kebijakan yang
mengarahkan usaha pertanian ke cara pandang demikian dikenal sebagai
intensifikasi. Karena pertanian industrial selalu menerapkan pertanian
intensif, keduanya sering kali disamakan.
Sisi yang
berseberangan dengan pertanian industrial adalah pertanian berkelanjutan
(sustainable agriculture). Pertanian berkelanjutan, dikenal juga dengan
variasinya seperti pertanian organik atau permakultur, memasukkan aspek
kelestarian daya dukung lahan maupun lingkungan dan pengetahuan lokal sebagai
faktor penting dalam perhitungan efisiensinya. Akibatnya, pertanian
berkelanjutan biasanya memberikan hasil yang lebih rendah daripada pertanian
industrial.
Pertanian modern masa kini biasanya menerapkan sebagian
komponen dari kedua kutub "ideologi" pertanian yang disebutkan di
atas. Selain keduanya, dikenal pula bentuk pertanian ekstensif (pertanian
masukan rendah) yang dalam bentuk paling ekstrem dan tradisional akan berbentuk
pertanian subsisten, yaitu hanya dilakukan tanpa motif bisnis dan semata hanya
untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau komunitasnya.
Sebagai
suatu usaha, pertanian memiliki dua ciri penting: selalu melibatkan barang
dalam volume besar dan proses produksi memiliki risiko yang relatif tinggi. Dua
ciri khas ini muncul karena pertanian melibatkan makhluk hidup dalam satu atau
beberapa tahapnya dan memerlukan ruang untuk kegiatan itu serta jangka waktu
tertentu dalam proses produksi. Beberapa bentuk pertanian modern (misalnya
budidaya alga, hidroponika) telah dapat mengurangi ciri-ciri ini tetapi
sebagian besar usaha pertanian dunia masih tetap demikian.
PERKEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN
Menurut
Kuznets, Sektor pertanian mengkontribusikan terhadap pertumbuhan dan
pembangunan ekonomi nasional dalam 4 bentuk, yaitu :
a. Kontribusi Produk contohnya : Penyediaan
makanan utk pddk, penyediaan Bahan baku untuk industri manufaktur.
contohnya , seperti industri tekstil,
barang dari kulit, makanan dan minuman.
b. Kontribusi Pasar contohnya : Pembentukan pasar
domestik untuk barang industri dan konsumsi.
c. Kontribusi Faktor Produksi menyebabkan
Penurunan peranan pertanian di pembangunan ekonomi, maka terjadi transfer
surplus modal dari sector pertanian ke Sektor lain
d. Kontribusi Devisa : Pertanian sebagai sumber
penting bagi surplus neraca perdagangan (NPI) melalui ekspor produk pertanian
dan produk pertanian yang menggantikan produk impor.
SEKTOR PERTANIAN DI INDONESIA
Struktur
perekonomian Indonesia merupakan topik strategis yang sampai sekarang masih menjadi
topik sentral dalam berbagai diskusi di ruang publik. Gagasan mengenai
langkah-langkah perekonomian Indonesia menuju era industrialisasi, dengan
mempertimbangkan usaha mempersempit jurang ketimpangan sosial dan pemberdayaan
daerah, sehingga terjadi pemerataan kesejahteraan kiranya perlu kita evaluasi
kembali sesuai dengan konteks kekinian dan tantangan perekonomian Indonesia di
era globalisasi.
Tantangan
perekonomian di era globalisasi ini masih sama dengan era sebelumnya, yaitu
bagaimana subjek dari perekonomian Indonesia, yaitu penduduk Indonesia
sejahtera. Indonesia mempunyai jumlah penduduk yang sangat besar, sekarang ada
235 juta penduduk yang tersebar dari Merauke sampai Sabang. Jumlah penduduk
yang besar ini menjadi pertimbangan utama pemerintah pusat dan daerah, sehingga
arah perekonomian Indonesia masa itu dibangun untuk memenuhi kebutuhan pangan
rakyatnya.
Berdasarkan pertimbangan ini, maka sektor pertanian
menjadi sektor penting dalam struktur perekonomian Indonesia. Seiring dengan
berkembangnya perekonomian bangsa, maka kita mulai mencanangkan masa depan
Indonesia menuju era industrialisasi, dengan pertimbangan sektor pertanian kita
juga semakin kuat.
Seiring dengan transisi (transformasi) struktural ini
sekarang kita menghadapi berbagai permasalahan. Di sektor pertanian kita
mengalami permasalahan dalam meningkatkan jumlah produksi pangan, terutama di
wilayah tradisional pertanian di Jawa dan luar Jawa. Hal ini karena semakin
terbatasnya lahan yang dapat dipakai untuk bertani. Perkembangan penduduk yang
semakin besar membuat kebutuhan lahan untuk tempat tinggal dan berbagai sarana
pendukung kehidupan masyarakat juga bertambah. Perkembangan industri juga
membuat pertanian beririgasi teknis semakin berkurang.
Selain berkurangya lahan beririgasi teknis, tingkat
produktivitas pertanian per hektare juga relatif stagnan. Salah satu penyebab
dari produktivitas ini adalah karena pasokan air yang mengairi lahan pertanian
juga berkurang. Banyak waduk dan embung serta saluran irigasi yang ada perlu diperbaiki.
Hutan-hutan tropis yang kita miliki juga semakin berkurang, ditambah lagi
dengan siklus cuaca El Nino-La Nina karena pengaruh pemanasan global semakin
mengurangi pasokan air yang dialirkan dari pegunungan ke lahan pertanian.
Sesuai dengan permasalahan aktual yang kita hadapi masa
kini, kita akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan di dalam
negeri. Di kemudian hari kita mungkin saja akan semakin bergantung dengan impor
pangan dari luar negeri. Impor memang dapat menjadi alternatif solusi untuk
memenuhi kebutuhan pangan kita, terutama karena semakin murahnya produk
pertanian, seperti beras yang diproduksi oleh Vietnam dan Thailand. Namun, kita
juga perlu mencermati bagaimana arah ke depan struktur perekonomian Indonesia,
dan bagaimana struktur tenaga kerja yang akan terbentuk berdasarkan arah masa
depan struktur perekonomian Indonesia.
Struktur
tenaga kerja kita sekarang masih didominasi oleh sektor pertanian sekitar 42,76
persen (BPS 2009), selanjutnya sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar
20.05 persen, dan industri pengolahan 12,29 persen. Pertumbuhan tenaga kerja
dari 1998 sampai 2008 untuk sektor pertanian 0.29 persen, perdagangan, hotel
dan restoran sebesar 1,36 persen, dan industri pengolahan 1,6 persen.
Sedangkan
pertumbuhan besar untuk tenaga kerja ada di sektor keuangan, asuransi,
perumahan dan jasa sebesar 3,62 persen, sektor kemasyarakatan, sosial dan jasa
pribadi 2,88 persen dan konstruksi 2,74 persen. Berdasarkan data ini, sektor
pertanian memang hanya memiliki pertumbuhan yang kecil, namun jumlah orang yang
bekerja di sektor itu masih jauh lebih banyak dibandingkan dengan sektor
keuangan, asuransi, perumahan dan jasa yang pertumbuhannya paling tinggi.
Data ini juga menunjukkan
peran penting dari sektor pertanian sebagai sektor tempat mayoritas tenaga
kerja Indonesia memperoleh penghasilan untuk hidup. Sesuai dengan permasalahan
di sektor pertanian yang sudah disampaikan di atas, maka kita mempunyai dua
strategi yang dapat dilaksanakan untuk pembukaan lapangan pekerjaan bagi
masyarakat Indonesia di masa depan.
Strategi
pertama adalah melakukan revitalisasi
berbagai sarana pendukung sektor pertanian, dan pembukaan lahan baru sebagai
tempat yang dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia.
Keberpihakan bagi sektor pertanian, seperti ketersediaan pupuk dan sumber daya
yang memberikan konsultasi bagi petani dalam meningkatkan produktivitasnya,
perlu dioptimalkan kinerjanya. Keberpihakan ini adalah insentif bagi petani
untuk tetap mempertahankan usahanya dalam pertanian. Karena tanpa keberpihakan
ini akan semakin banyak tenaga kerja dan lahan yang akan beralih ke
sektor-sektor lain yang insentifnya lebih menarik.
Strategi kedua adalah
dengan mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung bagi sektor lain yang akan
menyerap pertumbuhan tenaga kerja Indonesia. Sektor ini juga merupakan sektor
yang jumlah tenaga kerjanya banyak, yaitu sektor perdagangan, hotel, dan
restoran serta industri pengolahan. Sarana pendukung seperti jalan, pelabuhan,
listrik adalah sarana utama yang dapat mengakselerasi pertumbuhan di sektor
ini.
PROGRAM PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN
Program ini
bertujuan untuk memfasilitasi peningkatan dan keberlanjutan ketahanan pangan
sampai ke tingkat rumah tangga sebagai bagian dari ketahanan nasional. Kegiatan
pokok yang dilakukan dalam program ini meliputi :
1. Pengamanan ketersediaan pangan dari produksi
dalam negeri, antara lain melalui pengamanan lahan sawah di daerah irigasi,
peningkatan mutu intensifikasi, serta optimalisasi dan perluasan areal
pertanian;
2. Peningkatan distribusi pangan, melalui penguatan kapasitas kelembagaan pangan
dan peningkatan infrastruktur perdesaan yang mendukung sistem distribusi
pangan, untuk menjamin keterjangkauan masyarakat atas pangan;
3.
Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil, melalui optimalisasi pemanfaatan
alat dan mesin pertanian untuk pasca panen dan pengolahan hasil, serta
pengembangan dan pemanfaatan teknologi pertanian untuk menurunkan kehilangan
hasil (looses);
4. Diversifikasi pangan, melalui peningkatan
ketersediaan pangan hewani, buah dan sayuran, perekayasaan sosial terhadap pola
konsumsi masyarakat menuju pola pangan dengan mutu yang semakin meningkat, dan
peningkatan minat dan kemudahan konsumsi pangan alternatif/pangan lokal; dan
5. Pencegahan dan penanggulangan masalah pangan,
melalui peningkatan bantuan pangan kepada keluarga miskin/rawan pangan,
peningkatan pengawasan mutu dan kemanan pangan, dan pengembangan sistem
antisipasi dini terhadap kerawanan pangan.
PROGRAM PENGEMBANGAN AGRIBINIS
Program ini
bertujuan untuk memfasilitasi berkembangnya usaha agribisnis yang mencakup
usaha di bidang agribisnis hulu, on farm, hilir dan usaha jasa pendukungnya.
Kegiatan pokok yang akan dilakukan dalam program ini meliputi:
1. Pengembangan diversifikasi usahatani, melalui
pengembangan usahatani dengan komoditas bernilai tinggi dan pengembangan
kegiatan off-farm untuk meningkatkan pendapatan dan nilai tambah;
2. Peningkatan nilai tambah produk pertanian dan
perikanan melalui peningkatan penanganan pasca panen, mutu, pengolahan hasil
dan pemasaran dan pengembangan agroindustri di perdesaan;
3. Pengembangan dan rehabilitasi infrastruktur
pertanian dan perdesaan, melalui perbaikan jaringan irigasi dan jalan
usahatani, serta infrastruktur perdesaan lainnya;
4. Peningkatan akses terhadap sumberdaya
produktif, terutama permodalan;
5. Pengurangan hambatan perdagangan antar wilayah
dan perlindungan dari sistem perdagangan dunia yang tidak adil;
6. Peningkatan iptek pertanian dan pengembangan
riset pertanian melalui pengembangan dan pemanfaatan teknologi tepat dan
spesifik lokasi yang ramah lingkungan; dan
7. Pengembangan lembaga keuangan perdesaan dan
sistem pendanaan yang layak bagi usaha pertanian, antara lain melalui
pengembangan dan penguatan lembaga keuangan mikro/perdesaan, insentif
permodalan dan pengembangan pola-pola pembiayaan yang layak dan sesuai bagi
usaha pertanian.
PROGRAM PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI
Program ini bertujuan untuk
meningkatkan kapasitas dan daya saing masyarakat pertanian, terutama petani
yang tidak dapat menjangkau akses terhadap sumberdaya usaha pertanian. Kegiatan
pokok yang akan dilakukan dalam program ini adalah:
1. Revitalisasi sistem penyuluhan pertanian,
perikanan dan kehutanan yang secara intensif perlu dikoordinasikan dengan
pemerintah daerah baik propinsi maupun kabupaten;
2. Penumbuhan
dan penguatan lembaga pertanian dan perdesaan untuk meningkatkan posisi tawar
petani dan nelayan;
3.
Penyederhanaan mekanisme dukungan kepada petani dan pengurangan hambatan usaha
pertanian;
4. Pendidikan dan pelatihan sumberdaya manusia
pertanian (a.l. petani, nelayan, penyuluh dan aparat pembina);
5. Perlindungan terhadap petani dari persaingan
usaha yang tidak sehat dan perdagangan yang tidak adil; dan
6. Pengembangan upaya pengentasan kemiskinan.
KESIMPULAN
Kondisi yang terjadi di Indonesia , saat ini yaitu :
1.
Kemampuan
pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan kita sendiri, relatif telah dan
sedang menurun dengan sangat besar.
2.
Pada waktu
ini Indonesia berada dalam keadaan "Rawan Pangan" bukan karena tidak
adanya pangan, tetapi karena pangan untuk rakyat Indonesia sudah tergantung
dari Supply Luar Negeri, dan ketergantungannya semakin besar.
3.
Pasar pangan
amat besar yang kita miliki diincar oleh produsen pangan luar negeri yang tidak
menginginkan Indonesia memiliki kemandirian di bidang pangan.
Saran untuk meningkatkan Sektor Pertanian di Indonesia,
diantaranya :
1.
Negara perlu
merumuskan politik dan kebijakan paertanian yang jelas.
2.
Meminimalisir
dan menghentikan praktek konversi lahan pertanian produktif dan dilakukan
reforma agraria.
3.
Meningkatkan
luas lahan pertanian oleh petani.
4.
Mengoptimalkan
lahan tidur yang di kuasai oleh negara untuk kegiatan pertanian produktif.
5.
Meningkatkan
nilai tukar petani
6.
Membangun
Agro-Industri berbasis masyarakat di tingkat perdesaan.
7.
Membuat
regulasi mengenai upah buruh tani.
8.
Peningkatkan
teknologi pertanian tepat guna.
Dari Berbagai Sumber:
www.google.com, www.wikipedia.org, www.blogspot.com.
Minggu, 10 Februari 2013
BPP PANAI HULU "SEMANGAT PERBAIKAN"
Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Panai Hulu Kabupaten Labuhanbatu Provinsi Sumatera Utara, merekontruksi kembali jiwa kepenyuluhan dengan harapan momen revitalisasi SP3K yang sedang bergulir ini dapat melahirkan kebangkitan penyuluh yang berkompeten dan berdedikasi tinggi sebagaimana diharapkan masyarakat petani.
Diawali dengan merumuskan visi dan misi yang jelas BPP Panai Hulu bertekad menata kembali fungsi-fungsi penyuluh pertanian di masyarakat petani sehingga kehadirannya menjadi obat mujarab dalam meningkatkan produktivitas usahanya.
Mempunyai 6 WKPP yaitu Tanjung Sarang Elang, Sei Jawi-jawi, Cinta Makmur, Meranti Paham, Teluk Sentosa dan Sei Sentosa, saat ini BPP Panai Hulu melaksanakan berbagai kegiatan pembinaan baik kepada penyuluh, poktan dan gapoktan, pelaku usaha serta masyarakat lainnya dibidang pertanian dengan komoditas unggulan padi sawah (tadah hujan) serta tanaman kelapa sawit.
Diakui bukanlah hal mudah mewujudkan sistem penyuluhan pertanian seperti yang diharapkan, tetapi kami meyakini, kedepan seiring peningkatan penduduk dan kemajuan teknologi penyuluh akan mempunyai tempat tersendiri di hati masyarakat petani yang tidak bisa tergantikan perannya dalam upaya peningkatan kesejahteraannya. Amin
Langganan:
Postingan (Atom)









