BALAI PENYULUHAN PERTANIAN (BPP) KEC. PANAI HULU KAB. LABUHANBATU - SUMATERA UTARA

Balai Penyuluhan Pertanian (BPP)
Kec. Panai Hulu Kab. Labuhanbatu - Sumatera Utara

Sabtu, 02 Maret 2013

NASI, TAK ADA GIZINYA?

Yuk sejenak kita merenung, ternyata ada benarnya kalo sebagian kita menyatakan bahwa ketergantungan kita pada bahan pangan pokok berupa beras/nasi hanyalah karena "lapar psikologis", kebiasaan, budaya dan lain sebagainya.Intinya pola fikir kita belum berwawasan kepada kandungan gizi atau vitamin serta kebutuhan tubuh. Pola fikir kita baru sebatas "bagaimana makan biar kenyang". 
Sehingga cukup bagus gagasan menteri pertanian kita "one day no rice", penganeka ragaman pangan, manfaatkan pangan lokal, diversifikasi pangan dan sederet program lainnya guna menekan ketergantungan kita kepada "nasi". Ini salah satu faktanya. Believe or not ? tergantung kita sendiri memahaminya.
NASI memang membuat perut menjadi cepat kenyang. Terlebih, warga Indonesia hampir setiap hari mengonsumsinya. Namun, di balik itu semua, nyatanya nasi tidak ada gizinya.
Seperti dilansir dari buku Healthy Happy Family milik chef cantik Farah Quinn, Senin (21/11/2011), meskipun nasi terbilang alami dan tidak melalui proses kimia namun nilai gizi dari nasi itu sangat kurang.
Nasi putih termasuk refinerd food yang hanya berisi karbohidrat dan tidak berserat sama sekali.
Memang harus diakui karbohidrat putih memberikan energi secara instan tetapi efeknya bisa menghancurkan tubuh manusia karena tubuh kita sangat sulit mencerna refined food.
Selain itu, bila Anda terlalu sering mengonsumsi nasi akan menimbun lemak di dalam tubuh Anda. Oleh karenanya Anda akan menjadi gemuk dan tidak sehat.

DEMPLOT "CABE MERAH" DI BPP PANAI HULU

Assalamu'alaikum, para mitra tani di seluruh tanah air, kembali kami para penyuluh di BPP Kecamatan Panai Hulu mengetengahkan sedikit kegiatan yang mungkin membawa secercah wawasan bagi kita semua, yang kamipun menyadari bahwa ini bukan hal yang terlalu berarti, namun dengan "semangat perbaikan kedepan" tidak ada salahnya kami belajar berbagi dan mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan dimasa mendatang.
Halaman depan BPP dimanfaatkan dengan Demplot "Cabe Merah"
"Cabe" Siapa yang tidak kenal pada komoditas yang satu ini. Apalagi bagi kita "orang sumatera" engga makan rasanya kalo engga pake cabe, katanya. Rasa pedasnya mampu meningkatkan selera makan. Banyak kuliner Indonesia pakai cabe sebagai bumbunya dan sangat enak rasanya.
Okelah, kita jangan terlalu panjang ceritain cabe yang sudah familier ini.
Di WKBPP kecamatan Panai Hulu, cabe dibudidayakan petani masih sebatas skala kecil, antara 0,5 s.d 1 ha saja per orang. Sesekali memang ada yang membudidayakan hingga 5 ha secara patungan oleh beberapa orang petani dan pemodal.
Secara ekonomis harga cabe di Panai Hulu relatif stabil dan sangat menguntungkan dengan kisaran harga antara Rp. 20 ribu hingga Rp. 50 ribu per kg. Yang menjadi kendala utama dalam berbudidaya Cabe di Kecamatan Panai Hulu ini adalah ketika tanaman cabe tergenang karena banjir akibat air pasang dari laut / sungai dan curah hujan cukup tinggi. 
Dengan adanya tantangan ini kami coba, melakukan demplot budidaya cabe merah melalui pengaturan berbagai kedalaman air serta beberapa dosis pupuk organik sebagai perlakuannya. Dari hasil demplot ini diharapkan kami bisa mengetahui sejauhmana pengaruh genangan, serta berapa dosis terbaik dari pupuk organik dan pengaruhnya terhadap produksi cabe merah.
Sampai informasi ini kami posting, demplot masih kami panen dan belum tuntas berproduksi semua, jadi tunggu kelanjutannya. Insya Allah.