Assalamu'alaikum, para mitra tani di seluruh tanah air, kembali kami para penyuluh di BPP Kecamatan Panai Hulu mengetengahkan sedikit kegiatan yang mungkin membawa secercah wawasan bagi kita semua, yang kamipun menyadari bahwa ini bukan hal yang terlalu berarti, namun dengan "semangat perbaikan kedepan" tidak ada salahnya kami belajar berbagi dan mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan dimasa mendatang.
"Cabe" Siapa yang tidak kenal pada komoditas yang satu ini. Apalagi bagi kita "orang sumatera" engga makan rasanya kalo engga pake cabe, katanya. Rasa pedasnya mampu meningkatkan selera makan. Banyak kuliner Indonesia pakai cabe sebagai bumbunya dan sangat enak rasanya.
Okelah, kita jangan terlalu panjang ceritain cabe yang sudah familier ini.
Di WKBPP kecamatan Panai Hulu, cabe dibudidayakan petani masih sebatas skala kecil, antara 0,5 s.d 1 ha saja per orang. Sesekali memang ada yang membudidayakan hingga 5 ha secara patungan oleh beberapa orang petani dan pemodal.
Secara ekonomis harga cabe di Panai Hulu relatif stabil dan sangat menguntungkan dengan kisaran harga antara Rp. 20 ribu hingga Rp. 50 ribu per kg. Yang menjadi kendala utama dalam berbudidaya Cabe di Kecamatan Panai Hulu ini adalah ketika tanaman cabe tergenang karena banjir akibat air pasang dari laut / sungai dan curah hujan cukup tinggi.
Dengan adanya tantangan ini kami coba, melakukan demplot budidaya cabe merah melalui pengaturan berbagai kedalaman air serta beberapa dosis pupuk organik sebagai perlakuannya. Dari hasil demplot ini diharapkan kami bisa mengetahui sejauhmana pengaruh genangan, serta berapa dosis terbaik dari pupuk organik dan pengaruhnya terhadap produksi cabe merah.
Sampai informasi ini kami posting, demplot masih kami panen dan belum tuntas berproduksi semua, jadi tunggu kelanjutannya. Insya Allah.
"Cabe" Siapa yang tidak kenal pada komoditas yang satu ini. Apalagi bagi kita "orang sumatera" engga makan rasanya kalo engga pake cabe, katanya. Rasa pedasnya mampu meningkatkan selera makan. Banyak kuliner Indonesia pakai cabe sebagai bumbunya dan sangat enak rasanya.
Okelah, kita jangan terlalu panjang ceritain cabe yang sudah familier ini.
Di WKBPP kecamatan Panai Hulu, cabe dibudidayakan petani masih sebatas skala kecil, antara 0,5 s.d 1 ha saja per orang. Sesekali memang ada yang membudidayakan hingga 5 ha secara patungan oleh beberapa orang petani dan pemodal.
Secara ekonomis harga cabe di Panai Hulu relatif stabil dan sangat menguntungkan dengan kisaran harga antara Rp. 20 ribu hingga Rp. 50 ribu per kg. Yang menjadi kendala utama dalam berbudidaya Cabe di Kecamatan Panai Hulu ini adalah ketika tanaman cabe tergenang karena banjir akibat air pasang dari laut / sungai dan curah hujan cukup tinggi.
Dengan adanya tantangan ini kami coba, melakukan demplot budidaya cabe merah melalui pengaturan berbagai kedalaman air serta beberapa dosis pupuk organik sebagai perlakuannya. Dari hasil demplot ini diharapkan kami bisa mengetahui sejauhmana pengaruh genangan, serta berapa dosis terbaik dari pupuk organik dan pengaruhnya terhadap produksi cabe merah.
Sampai informasi ini kami posting, demplot masih kami panen dan belum tuntas berproduksi semua, jadi tunggu kelanjutannya. Insya Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kami sangat berterima kasih jika anda memberikan komentar sebelum meninggalkan blog ini!